Dunia Berjalan Terlalu Cepat

Beberapa tahun lalu saya dianggap punya keahlian yang tidak dimiliki rekan-rekan di tempat kerja yang lama. Saya bisa mengedit video, meski dalam bentuk yang sangat sederhana, dan menjadikan VCD. 

Saat ini itu sudah bukan keahlian istimewa lagi. Banyak anak muda yang bisa mengedit video dengan aplikasi yang ada di smartphone. Dioperasikan dengan mudah.

Sekitar tahun 2010 an saya belajar sebuah software desain grafis dengan serius. Hingga beberapa tahun setelahnya saya aktif menjadi desainer grafis lepas. 

Sekarang orang sudah tidak perlu repot-repot untuk mendesain. Tinggal instal Canva, beres. Cepat dan bagus.

Teknologi mengubah dunia ini dengan cepat. Terlalu cepat bahkan. Jangankan yang tua, yang masih muda saja sering keteteran untuk mengejarnya. 

Selesai Isoman

Setelah Isoman satu minggu, swab antigen ulang dan akhirnya sudah negatif. Isoman satu minggu sebenarnya bukan perkara sakit karena virusnya, tetapi bosan harus di rumah terus. Meskipun sebenarnya isoman boleh-boleh saja keluar rumah, berjemur di halaman misalnya, tetapi tetap tidak nyaman saja jika ada orang.

Varian Omicron ini saya rasakan mirip penyakit flu. Tidak lebih. Saya hanya merasakan radang tenggorokan dan batuk. Pilek pun tidak. Ditambah banyak tetangga saya yang sedang sakit flu. Mereka terkena dampak Hari Nggregesi Nasional beberapa hari lalu. Tidak bisa dibedakan gejala Omicron dan nggregesi biasa.

Isoman hari kelima kemarin istri demam dan flu juga, akhirnya swab antigen di puskesmas dan hasilnya positif juga. Sampai hari ini istri masih isoman. Nanti siang atau besok antigen ulang. Semoga sudah negatif.

Akhirnya Isoman Juga

Setelah mampu bertahan dua tahun dari gempuran Covid-19, akhirnya kena juga. Malam Jum'at tiba-tiba badan terasa gak enak, radang tenggorokan dan batuk kering mulai masif menyerang. Jumat pagi saya izin tidak bekerja. Karena sudah enakan, sore harinya swab antigen agar besok bisa bekerja lagi dengan aman. Dan ternyata hasilnya positif. Ya sudah, mulailah masa-masa isoman 10 hari ke depan.

Saya sudah menduga bahwa hasilnya akan positif karena beberapa waktu sebelumnya saya kontak dengan penyintas covid juga. Meskipun badan terasa baik-baik saja tapi sementara harus sabar melakukan isolasi mandiri. Virus ini harus berhenti di saya. Tidak boleh menular ke orang lain. 

Salam!

Perihal Nama Anak Kiai

Masa remaja saya habiskan di kabupaten Temanggung. Saya nyantri di salah satu pesantren di sana, di Pondok Modern Assalaam. Tamat enam tahun, setingkat SMP dan SMA. Banyak yang bilang mondok di pesantren itu terkekang, tidak bebas, tidak punya privasi dan istilah lain yang memiliki makna serupa. Bisa benar, bisa salah. Tergantung dari keluarga seperti apa dia berasal.

Jika asal keluarganya orang berkemampuan ekonomi yang baik, tentu akan merasa tersiksa hidup di pesantren yang serba sederhana. Jika dia berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, tidak masalah hidup di pesantren, toh sama-sama hidup sederhana. Kalau dia dari keluarga tidak mampu, akan lebih terjamin hidupnya di pesantren. Banyak teman saya di pesantren berasal dari keluarga tidak mampu. Biaya pesantrennya ditanggung oleh orang tua asuh. Ini dari kondisi ekonomi keluarga.

Konsistensi dan Teori 10.000 Jam

Saya berpendapat bahwa keberhasilan seseorang itu tergantung bagaimana kegigihannya dalam berlatih. Tidak ada cara lain. Tidak ada cara instan. Seseorang yang ingin mahir bermain gitar, ia harus merelakan waktunya untuk berlatih bermain gitar sekian jam setiap hari selama rentang waktu tertentu. Seseorang yang ingin menjadi pesepak bola profesional ala Lionel Messi, ia butuh waktu sekian jam per hari hanya untuk melatih tendangan pinalti saja.