Sudah tujuh belas bulan kita "diteror" covid-19. Terhitung mulai pertengahan maret 2020 kita tidak baik-baik saja. Banyak batasan dalam kehidupan kita. Kita tidak boleh "terlalu akrab" dengan orang lain. Takutnya ketika berbicara ada ludah yang muncrat lalu menyebabkan covid. Mengadakan hajatan juga jadi lebih ribet. Mesti ada biaya ekstra untuk alat-alat prokes. Perijinan dari desa juga belum tentu keluar. Tamu tidak boleh banyak-banyak. Jadi kalau mau nikah nunggu pandemi selesai saja. Kecuali mau nikah hemat dengan alibi prokes :)
Sendal Jepit Saiful
Namanya Saiful Amri. Ia berasal dari sebuah desa di pelosok Temanggung, kurang lebih satu jam perjalanan naik motor dari pusat kota. Karena jalan yang menanjak dan berkelok, perlu motor atau mobil dengan stamina mesin yang prima untuk bisa sampai ke sana dengan selamat. Tidak heran jika ayah Saiful menggunakan motor trail setiap menjenguk saiful ke pesantren. Kadangkala juga terlihat menggunakan Honda Win 100 berplat merah, motor dinasnya sebagai kepala desa.
Menulis lagi...
Setahun lebih tidak menulis di sini.
Saya sudah tidak mengikuti perkembangan blogging. Beberapa blogger senior yang dulu rutin saya baca blognya sudah lenyap. Saya ketik domainnya yang muncul pemberitahuan dari perusahaan hosting.
Mendadak semalam saya buka-buka lagi akun blogger.com saya. Saya buka juga akun adsense yang sudah nganggur dari 2016.
Tetiba saya ingin menulis di sini.
Resolusi 2020
Apa resolusimu tahun 2020? haha.. Kata resolusi menjadi kata yang paling banyak ditulis di sosial media mendekati pergantian tahun. Bagus-bagus saja. Tidak ada yang salah.
Esensi pergantian tahun sama seperti esensi ulang tahun, yaitu berkurangnya umur kita. Sehingga setiap tahun harus semakin baik diri kita.
Apa resolusi saya tahun 2020?
Kontraktor
Aku anak yang beruntung. Ayahku sangat menyayangiku. Ia sering
membelikan boneka doraemon sepulang dari pergi beberapa hari ke luar kota. Aku
sering bertanya kepada Ibu kemana ayah pergi. Kata ibu, ayah pergi bekerja. Aku
heran, Ical teman sebangkuku di sekolah ayahnya juga bekerja tetapi bisa pulang
setiap hari. Kenapa ayah tidak. Nanti kalau aku sudah dewasa pasti aku paham.
Aku pernah bertanya kepada ibu juga tentang apa pekerjaan ayah. Ibu
memberi tahuku sebuah kata yang saya susah kutirukan. Kata ibu, pekerjaan ayah
adalah membuat jalan-jalan aspal. Kadang membuat jembatan. Lain kesempatan
membuat bangunan puskesmas atau pasar. Hebat sekali pekerjaan ayah. Kalau sudah
besar nanti aku ingin bekerja seperti ayah. Membangun jalan-jalan aspal supaya
anak-anak desa bisa bersepeda tanpa takut kotor oleh genangan air selepas
hujan. Membangun jembatan agar anak-anak bisa ke sekolah dengan bersepeda tanpa
harus susah payah menyeberangi sungai berarus deras. Ayahku keren. Pokoknya,
kalau besar nanti aku ingin bekerja seperti ayah. Titik.
Langganan:
Postingan (Atom)