Sore hari itu, Sarju terlihat murung.
Ia duduk di atas tembok setinggi satu meter yang memisahkan teras kamar mandi
dengan sedikit tanah kosong di sebelahnya. Tatapan matanya kosong meskipun
seakan ia sedang melihat hamparan sawah di hadapannya.
Sarju adalah adik kelas saya. Saya
kelas dua dan dia kelas satu. Sebagai kakak kelas yang baik tentu saja saya
merasa prihatin melihat keadaan sarju yang sedang gundah gulana. Saya
mendekatinya dengan maksud untuk menghibur dia.
Saya duduk di samping kirinya. Ia
masih melamun.